Konsepsi awal tentang souvenir pernikahan adalah sebagai kenang-kenangan, sebagai sebuah “kesan” yang bisa tertampakkan secara fisik dirumah para penerima undangan. Maka berangkat dari konsep dasar ini, perkembangan tren souvenir pernikahan di awal kemunculannya adalah pada bentuk-bentuk yang cantik, indah dan menarik yang memang berkesan ketika dijadikan pajangan. Bentuknya beraneka ragam, umumnya miniatur dari benda-benda sebenarnya : mulai dari guci kecil, sendok garpu, mobil-mobilan, lampu dan sebagainya. Tapi tetap semuanya memiliki keseragaman : sekedar pajangan! Kini jenis souvenir macam itu sudah dibilang usang. Orang tidak lagi memilih model non fungsional macam itu. Kalau sekedar jadi pajangan, yang terjadi nantinya adalah sebaliknya : berakhir di tong sampah, atau setidaknya di tempat barang-barang tak berguna. Para penerima undangan pernikahan sudah pasti saat ini rumahnya penuh dengan hiasan yang didapat pada resepsi. Kalau nggak unik-unik banget, rasanya sudah pasti anda – sebagai yang punya gawean – buang uang secara percuma. Kenangan yang coba anda tinggalkan berakhir di tempat yang terpuruk. Yang sekarang paling dicari orang adalah bentuk souvenir nikah yang fungsional sifatnya. Yang bisa dipakai, yang tidak akan terbuang. Misalnya : pulpen, note kecil, taplak meja, agenda dan sebagainya. Walau anda sudah punya 100 pulpen di rumah tapi tentu saja 1 buah pemberian kenang-kenangan dari acara resepsi tetap tidak akan anda buang. Begitulah trend yang ada saat ini. Bahkan sekarang orang mulai lebih kreatif. Ada juga souvenir resepsi pernikahan yang memberikan kenang-kenangan dalam bentuk sesuatu yang bisa dikonsumsi. Ada yang memberi kue, coklat bahkan hingga rokok! Aneh-aneh saja Incoming search terms:souvenir pernikahansouvenir pernikahan notessouvenir [...]
